Ulama Mandailing dan Terbentuknya Jaringan Pesantren di Sumatera Utara

Faisal Musa

Abstract


Abstract: The pilgrimage phenomenon of the Indonesian Muslim community began to be significant since the 17th century. Interestingly, there are many Indonesian students who do not only go on pilgrimage but also to gain knowledge from their main source in Harāmaīn. The students who study at Harāmaīn come not only from Java, but also from North Sumatra, especially from the Southern Tapanuli area. Apart from being active in developing Islam, many of the ulema or talib al-'ilmi who have returned to the archipelago have taken the initiative to develop Islamic boarding schools. Among them, the one who is best known as a cleric as well as a kyai leader of a pesantren is Syekh Mustafa Husein al-Mandily (1886-1955). Apart from being preachers and professionals in various fields, not a few alumni of these pesantren have gone on to become the founding kyai and caretakers of the pesantren. Until this research was conducted, no less than 40 Islamic boarding schools in this area were founded by alumni of Musthafawiyah Purbabaru, and hundreds of others were located outside of South Tapanuli or North Sumatra. And what's interesting is that there are not a few Musthafawiyah alumni of the pesantren that still preserve the traditions and culture of the Musthafawiyah pesantren which was founded by Syekh Musthafa Husein since 1912.

 

Abstrak: Fenoma berhaji masyarakat Islam Nusantara mulai signifikan sejak abad ke-17. Yang menarik, banyak santri Nusantara yang tidak hanya sekedar berhaji tetapi juga untuk menimba ilmu dari sumber utamanya di Harāmaīn. Para santri yang menuntut ilmu di Harāmaīn tidak hanya berasal dari Jawa, tetapi juga dari Sumatera Utara, termasuk dari daerah  Tapanuli Bagian Selatan. Selain aktif untuk mengembangkan Islam, para ulama atau thalib al-‘ilmi yang telah kembali ke Nusantara banyak yang kemudian berinisiatif untuk mendirikan lembaga pendidikan pesantren. Diantaranya yang paling dikenal sebagai ulama sekaligus kyai pemimpin pesantren adalah Syekh Musthafa Husein al-Mandily (1886-1955). Atas upaya dan kerja kerasnya, pesantren yang didirikannya yakni Musthafawiyah Purbabaru telah menjadi pusat jaringan pesantren di Sumatera Utara dan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel khususnya). Hingga penelitian ini dilakukan, tidak kurang dari 40 pesantren di daerah ini yang didirikan oleh alumni Musthafawiyah Purbabaru, dan ratusan lainnya berada di luar Tapanuli Bagian Selatan atau Sumatera Utara. Dan yang menarik, pesantren-pesantren dirian alumni Musthafawiyah tidak sedikit yang masih melestarikan tradisi dan budaya pesantren Musthafawiyah yang didirikan oleh Syekh Musthafa Husein sejak tahun 1912 yang lalu


Keywords


Ulama Mandailing, Jaringan, Pesantren. Sumatera Utara

Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi. (2018). Jaringan Ulama Timur-Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Depok: Prenadamedia Group.

Ading Kusdiana, et al., (2020). The Pesantren Networking In Priangan (1800-1945). International Journal of Nusantara Islam, 120.

Asari, Hasan. (2020). Esai-esai Sejarah, Pendidikan dan Kehidupan. Medan: Perdana Publishing.

Abidin, Zainal. (2018). Kontribusi Pendidikan Islam Syaikh Ali Hasan Ahmad Ad-Dary. Jurnal Idrak, 68.

Bruinessen, Martin van. (2020). Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Yogyakarta: Gading Publishing.

Dalimunthe, Sehat Sultoni. (2020) Sejarah Pendidikan Pesantren di Kabupaten Padang Lawas Utara. Yogyakarta: IRCISoD.

Dhofier, Zamakhsyari. (2011). Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Cet. Kesembilan. Jakarta: LP3ES.

Hamdan, Ali et al., (2020). Moderasi Beragama ala Mazhab Musthafawiyah. Malang: UIN Maliki Press.

Harahap, Akhir Matua et al., (2017). Pendidikan di Tapanuli Bagian Selatan: Perjalanan Panjang Perubahan Status UGN Menjadi PTN. Yogyakarta, Deeppublish.

Hurgronje, C. Snouck. (1999). Shafāhat Min Tārikh Makkah al-Mukarromah, al-Juz’ al-Tsani. Makkah: Dārah al-Malik ‘Abd al-‘Azīz.

Kabidoen, Soetan. (1929). Ngada Niambang: Hobaran di Hata Mandailing, Edisi Pertama. Jakarta: Depdikbud.

Meyer, Heinz-Dieter and Brian Rowan, (eds.), (2021). “The New Institutionalism in Education” dalam Iksan K. Sahri, Pesantren, Kyai dan Kitab Kuning. Yogyakarta: Cantrik Pustaka..

Pulungan, Abbas. (2020). PesantrPesantren Tertua, Terbesar di Sumatera Utara. Medan: Perdana Publishing.

Syahnan, Mhd. et al., (2019). “The -Intellectual Network of Mandailing and Haramayn Muslim Scholar In The Mid-19th And Early 20th Centuries,”. Jurnal Teosofi: Jurnal Tasa wuf dan Pemikiran Islam, vo. 9, No. 2.

Tanisya, (2017). Sejarah Pendidikan di Kota Padangsidimpuan Tapanuli Selatan. Skripsi Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan, 3.

Tarigan, Azhari Akmal et al., (2020). The Network of Ulama and Its Role In The Development of Islam In North Sumatera (Religió: Jurnal Studi Agama-agama, Volume 10, Nomor 2, September 2020) h. 217.




DOI: https://doi.org/10.24815/jimps.v8i3.26530

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

JIMPS: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah indexed by

sinta_logodoaj_logoDimensions_logoCROSSREF_logoROAD_logoPKP_Index_logoGoogle_Scholar_logogaruda_logoonesearch_logoBASE_logoWordcat_logo

___________________________________________________________
JIMPS: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah

E-ISSN 2614-3658
P-ISSN 2964-7231

Published by History Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Syiah Kuala in collaboration with "Perkumpulan Prodi Pendidikan Sejarah Se- Indonesia"
W :https://jim.unsyiah.ac.id/sejarah
E : jimsejarah@usk.ac.id

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0