Praktik Mawah dan Pola Bagi Hasil Ternak Lembu pada Masyarakat di Kecamatan Kuala Batee Aceh Barat Daya

Rika Rahimi Syahwal, Alfi Syahril Fuadi Jaya, Zulfadhli Zulfadhli

Abstract


Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengkaji bentuk akad kerjasama mawah yang dilakukan oleh masyarakat Aceh dan bentuk pelaksanaan mawah dalam masyarakat Aceh, dan mengkaji tentang masalah yang akan timbul dari kerjasama ini serta penyelesaian masalah apabila terjadi sengketa antara kedua belah pihak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian Deskriptif-Kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah beberapa pemilik lembu dan peternak lembu yang melakukan bagi hasil ternak mawah yang diambil dengan melakukan wawancara langsung dilapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tiga macam teknik yaitu dokumen, wawancara, dan observasi. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa 1) Bentuk akad kerjasama mawah pada peternak lembu di Kecamatan Kuala Batee adalah akad mudharabah muqayyadah dikarenakan kedua belah pihak memberikan batasan atas penggunaan dana yang diinvestasikan, dengan perjanjian yang dilakukan secara lisan dengan para saksi seadanya dikarenakan mawah sendiri didasarkan pada kepercayaan dan rasa tolong menolong sesama; 2) Pelaksanaan sistem bagi hasil mawah ternak lembu di Kecamatan Kuala Batee dibagi menjadi dua yaitu keuntungan untuk lembu jantan dan keuntungan untuk lembu betina sebagai berikut: a. Untuk lembu betina yang dibagi adalah anaknya sesuai dengan beberapa ketentuan yaitu 50:50 untuk lembu betina yang sudah pernah melahirkan, 3:1 untuk lembu betina yang belum pernah melahirkan, hak babah koala untuk pemilik lembu jika yang dilahirkan adalah lembu betina maka pemilik membayar setengah harga lembu tersebut kepada pemelihara sehingga lembu tersebut menjadi milik pemilik lembu. b. Untuk lembu jantan bagi hasil dilakukan dengan cara menaksir harga jual lembu yang disaksikan oleh beberapa saksi, setelah beberapa lama dipelihara oleh penerima lembu maka akan dijual dengan harga yang disepakati dan keuntungan dibagi 50:50 setelah modal awal dikembalikan kepada pemilik lembu. 3) Penyelesaian masalah dilakukan dengan musyawarah dan secara kekeluargaan atau dapat diselesaikan melalui geuchik gampong dilembaga adat yang ada didesa setempat.Keywords:: Praktik, Mawah, Bagi Hasil, Ternak.

Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Abshori, et al., 2008. Model Penyelesaian

Sengketa Lingkungan Melalui

Lembaga Alternatif. Jurnal Mimbar

Hukum, 2:193-410.

Ibrahim, Azharsyah 2012. Praktik Ekonomi

Masyarakat Aceh Dalam Konteks

Ekonomi Islam: Kajian Terhadap

Sistem Mawah dan Gala. Jurnal

Internasional

Islamic University

Malaysia, 3: 443-451.

Karim, Adiwarman. 2007. Bank Islam Analisa

Fiqh dan Keuangan. Jakarta: PT Raja

Grafindo Press.

Jannah, Miftahul. 2017. Pelaksanaan

Perjanjian Bagi Hasil (Mawah) Ternak

Sapi Dalam Masyarakat Adat. [Skripsi,

Universitas Syiah Kuala], Banda Aceh.

Rizki, M. 2019. Praktek Perjanjian Mawah

(Bagi Hasil) Pada Hewan Ternak

Lembu Di Lingkungan Masyarakat

Aceh.[Skripsi, Universitas Muhammaddiyah Sumatera Utara],

Medan.

Sulaiman, Isa dan Syamsuddin. (EDS.). 2008.

Pedoman Umum Adat Aceh (Peradilan

dan Hukum Adat). Nanggroe Aceh

Darussalam: Majelis Adat Aceh

(MAA).

Syamsuddin. 2018. Peran Konsep “Mawah”

Sebagai Edukasi

Permodalan

Masyarakat Aceh. Jurnal

Ilmu

Administrasi Bisnis Universitas Malikussaleh, 4: 42-45.

Yahman. 2015. Karakteristik Wanprestasi &

Tindak Pidana Penipuan. Jakarta:

Prenadamedia Group.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.




JIMPE (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Ekonomi)

e-ISSN: 2746-7775
Organized by Universitas Syiah Kuala 
Published by Jurusan Pendidikan Ekonomi FKIP USK
Website : http://jim.unsyiah.ac.id/pendidikan-ekonomi
Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.