Karakteristik Morfologi dan Fisika Tanah pada Lahan Gambut Pasca dan Non Terbakar di Desa Lueng Gayo Kecamatan Teunom Aceh Jaya

Alfin Kabira Prasaja, Manfarizah Manfarizah, Syakur Syakur

Abstract


Abstrak. Kebakaran lahan gambut sebagian besar disebabkan oleh pembukaan lahan gambut. kebakaran lahan gambut menyebabkan air tanah turun dan kering. Lahan gambut yang kering menyebabkan lahan yang secara alamiah sangat menyerap air (hydrophilic) menjadi tidak bisa menyerap air lagi (hydrophobic) dan kering. Penelitian ini bertujuan untuk membanding dan mempelajari dampak perubahan beberapa sifat fisik tanah dan morfologi gambut akibat dari kebakaran yang terjadi di Desa Lueng Gayo Kecamatan Teunom Aceh Jaya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – Juli 2023 di lahan gambut bekas terbakar di tahun 2021 dan 2022. Parameter yang diamati ialah kematangan, kedalaman, warna, subsidence, bearing capacity, kering tak balik, bulk density dan kadar air.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan gambut terbakar memiliki nilai bulk density tertinggi yaitu 0,47 g cm-3, sedangkan nilai terendahnya didapat di penggunaan lahan gambut sawit non terbakar dengan nilai bulk density 0,31 cm-3. Sedangkan nilai kadar air tertinggi terdapat pada lahan gambut yang belum dibudidayakan dengan nilai 380,77%, sedangkan nilai terendahnya yaitu terdapat pada penggunaan lahan gambut sawit terbakar dengan nilai 336,88%. Hal ini dikarenakan pada penggunaan lahan gambut terbakar nilai bulk density tertinggi namun nilai kadar air pada penggunaan lahan gambut non-budidaya nilai kadar air tertinggi, maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan karakteristik dan sifat fisik tanah pada lahan gambut terbakar dan gambut non-terbakar.

Soil Morphology and Physical Characteristics of Post and Non-Burned Peatlands in Lueng Gayo Village, Teunom District, Aceh Jaya

Abstract. Peatland fires are mostly caused by clearing peatlands. Peatland fires cause groundwater to drop and dry up. Dry peatlands result in land that naturally absorbs a lot of water (hydrophilic) becomes unable to absorb water any more (hydrophobic) and dry. This research aims to compare and study the impact of changes in several physical soil properties and peat morphology as a result of fires that occurred in Lueng Gayo Village, Teunom District, Aceh Jaya. This research was carried out in March – July 2023 on peatlands that had been burned in 2021 and 2022. The parameters observed were maturity, depth, color,subsidence, bearing capacity, dry never to return,bulk density and water content.. The research results show that the use of burned peat land has valuebulk density The highest is 0.47 g cm-3, while the lowest value was obtained in the use of non-burnt oil palm peat land with value bulk density 0,31 cm-3. Meanwhile, the highest water content value is found in peatland that has not been cultivated with a value of 380.77%, while the lowest value is found in the use of burnt oil palm peatland with a value of 336.88%. This is due to the use of burned peatlands bulk density the highest but the water content value in non-cultivated peatland use is the highest, so it can be concluded that there are differences in the characteristics and physical properties of the soil in burned peatlands and non-burned peatlands.


Keywords


Gambut; Morfologi; Fisika Tanah; Pasca Terbakar; Peat; Morphology; Soil Physics; Post-Burn

Full Text:

PDF

References


Agus, F. dan I.G. M. Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan.Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor, Indonesia

Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Aceh Jaya. Berita: Lahan Gambut Terbakar di Aceh Jaya. https://aceh.tribunnews.com/2022/09/06/lahan-gambut-kabupaten-aceh-jaya. Diakses tanggal: 20 12 2022.

Hutagalung, N.2018. Kajian Beberapa Karakteristik Tanah Gambut Pada Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang Pasca Terbakar Di Kecamatan Berbak Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Tesis. universitas jambi.

Maas, A., 1997. Pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Jurnal Alami 2(1):12-16.

Maftuah, E., 2012. Ameliorasi Lahan Gambut Terdegradasi dan Pengaruhnya Terhadap Produksi Jagung Manis. Program Pascasarjana UGM. Yogyakarta.

Masganti., 2013. Teknologi Inovatif Pengelolaan Lahan Suboptimal Gambut dan Sulfat Masam untuk Peningkatan Produksi Tanaman Pangan. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian. 4: 187-197

Maswar. and Fahmuddin, A., 2014. Cadangan Karbon dan Laju Subsiden pada Beberapa Kondisi dan Lokasi Gambut Tropika Indonesia. Dalam Seminar Nasional Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi Untuk Mitigasi Emisi GRK dan Peningkatan Nilai Ekonomi. Jakarta.

Najiyati, S., L. Muslihat, dan I.N.N. Suryadiputra. 2005. Panduan Pengelolaan Lahan Gambut untuk Pertanian Berkelanjutan. Proyek Climate Change, Forest, and Peatlands in Indonesia. Wetlands International-Indonesia Programe dan Wildlife Habitat Canada. Bogor, Indonesia.

Noor, M., 2001. Pertanian Lahan Gambut. Peneribit Kanisius. Yogyakarta.

Notohadiprawiro, T., 1997. Twenty Five Years Experience in Peatland Development for Agriculture in Indonesia. Dalam J.O. Rieley dan S.E Page (Eds.). Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands Samara Publ. Ltd. Cardigan. 301-309.

Nugroho, Y., 2018. Budidaya Sengon Laut (Paraserianthes Falcataria. L) Nielson di Lahan Rawa. Laporan Penelitian. Banjarbaru Kalimantan Selatan.

Sabiham, S., Wahyanto, Nugroho, Subiksa. and Sukarman., 2007. Laporan Tahunan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.

Subardja, D. and Suryani, E., 2012. Klasifikasi dan Distribusi Tanah Gambut Indonesia Serta Pemanfaaatannya Untuk Pertanian. Dalam Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.

Saribun., 2007. Pengaruh Jenis Penggunaan Lahan dan Kelas Kemiringan Lereng Terhadap Bobot Isi, Porositas Tanah, Kadar Air Tanah pada Sub Das Cikapundung Hulu. Skripsi. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran.

Suswati, D., B. Hendro, D. Shiddieq, dan D. Indradewa.2011. Identifikasi Sifat Fisik Lahan Gambut Rasau Jaya III Kabupaten Kubu Raya Untuk Pengembangan Jagung. Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika, 1: 31- 40.

Tahrun, M., Wawan., dan Amri, A., 2015. perubahan sifat fisik gambut akibat kebakaran di desa teluk binjai kecamatan teluk meranti kabupaten pelalawan. Jom Faperta. Vol 1 No 2.

Tim Sintesis Kebijakan. 2008. Pemanfaatan Biota Tanah Untuk Keberlanjutan. Produktivitas Pertanian Lahan Kering Masam. Pengembangan Inovasi. Pertanian.

Wasis, B. 2005. Kajian Perbandingan Kualitas Tempat Tumbuhan Antara Rotasi Pertama dan Rotasi Kedua Pada Hutan Tanaman Acacia mangium Willd.Studi Kasus di HTI Musi Hutan Persada, Provinsi Sumatra Selatan. Disertasi. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.92 hal.

Yulnafatmawati, U., Luki, dan A. Yana. 2007. Kajian Sifat Fisika Tanah Beberapa Penggunaan Lahan di Bukit Gajabuih Kawasan Hutan Hujan Tropik Gunung Gadut Padang. Jurnal Solum, 4 (2): 49- 61.

Yuniawati, & Suhartana, S.2013. Peningkatan Bobot Isi Tanah Gambut Akibat Pemanenan Kayu Di Lahan Gambut. Jurnal Hutan Tropis, 1(3). Retrieved from http://dx.doi.org/10.20527/jht.v1i3.1546




DOI: https://doi.org/10.17969/jimfp.v8i4.28071

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 


JIM Agribisnis|JIM Agroteknologi|JIM Peternakan|JIM Teknologi Hasil Pertanian|JIM Teknik Pertanian|
JIM Ilmu Tanah|JIM Proteksi Tanaman|JIM Kehutanan


E-ISSN: 2614-6053 2615-2878 Statistic Indexing | Citation


Alamat Tim Redaksi:
Fakultas Pertanian,Universitas Syiah Kuala
Jl. Tgk. Hasan Krueng Kalee No. 3, Kopelma Darussalam,
Banda Aceh, 23111, Indonesia.
Email:jimfp@usk.ac.id