Inventarisasi Jenis Tumbuhan Yang Berpotensi Sebagai Penghasil Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Hutan Produksi KPH Wilayah V Aceh Kabupaten Gayo Lues

Sadian Toni, Saida Rasnovi, Misdi Misdi

Abstract


Abstrak:Penelitian ini dilakukan di Hutan Produksi KPH Wilayah V Aceh Kabupaten Gayo Lues dan bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai penghasil hasil hutan bukan kayu (HHBK), status ekologi setiap jenis, bagian tumbuhan yang gunakan dan indek keragaman jenisnya. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei eksploratif, Analisis vegetasi dilakukan dengan metode petak berganda. Penempatan petak ukur dilakukan secara sytematic random sampling dengan jarak antar petak ukur 100 m. Inventarisasi di lapangan dilakukan pada semua jenis vegetasi yang ditemukan. Selanjutnya berdasarkan kajian pustaka ditentukan jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai  penghasil HHBK. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ditemukan 29 jenis vegetasi dan yang terindikasi sebagai penghasil HHBK ditentukan sebanyak 19 jenis. Status ekologi jenis vegetasi yang terindikasi sebagai penghasil HHBK ditentukan berdasarkan urutan indeks nilai penting ( INP). Serai wangi (Cymbopon nardus) menempati urutan teratas untuk semai (76,49%), sedangkan tusam  (Pinus merkusii) menempati urutan teratas untuk strata pancang, tiang dan pohon (179,59%, 268,03% dan 270,04%). Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai HHBK adalah getah, minyak atsiri, daun, batang, bunga, nira, akar, lidi dan ijuk. Indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiener (H') untuk tumbuhan yang berpotensi sebagai penghasil HHBK pada tingkat pohon, tiang, pancang dan semai, nilainya berturut-turut adalah 0,67; 0,75; 0,60 dan 0,80. Nilai tersebut menunjukkan bahwa tingkat keanekaragaman jenis penghasil HHBK di kawasan Hutan Produksi KPH Wilayah V Aceh rendah

Inventory of potential Plants to Produce Non-Timber Forest Products (NTFP) in  Production Forest Area, KPH Region V Aceh, Gayo Lues Regency

Abstract: The study was carried out in the region of the KPH region (gayo lues) and was intended to identify potential forest producers (HHBK), the economic status of the individual kinds, and the various types of plants. The study is conducted by exploratory survey methods, vegetation analysis is done by bergmical grid methods. The placement of cot measures is done in a sytematic random sampling along with 100 m (100 m) of pan. An inventory in the field is done on all types of vegetation found. Additionally, according to library studies, the types of plants that have the potential HHBK producers. Studies have shown that 29 types of vegetation have been found and that HHBK production is determined by 19. The ecological status of the types of vegetation indicated by HHBK production is determined by the order of the important value index (INP). Spikenard (cymbopon nardus) tops the semai (76.49%), while tusam (pine merkusii) tops the list for strata stakes, poles and trees (179.59%, 268.03% and 270,04%). A section of vegetation used as HHBK is SAP, oil of atsiri, leaves, stems, flowers, nira, roots, lidi and ijuk. Shannon-wiener (H ') biodiversity index for potential plants producing HHBK at tree levels, poles, stakes and semai, its successive value is 0.67; 0.75; 0.60 and 0.80. Minimum value.


Keywords


HHBK; Potensi; Hutan Produksi; KPH Wilayah V Aceh; Vegetasi

Full Text:

PDF

References


Ekawati, S., 2013. Evaluasi Implementasi Kebijakan Desentralisasi Pengelolaan Hutan Produksi. Jurnal publications.10(3),pp. 187-189.

Hidayat, M. (2018). Analisis Vegetasi dan Keanekaragaman Tumbuhan di Kawasan Manifestasi Geotermal Ie Suum Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar. BIOTIK: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi dan Kependidikan, 5(2), 114-124.

Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta.

Makmur, A. 2022. Evaluasi Kontribusi Getah Pinus Terhadap Pendapatan Masyarakat Desa Seneren Kecamatan Pantan Cuaca Kabupaten Gayo Lues. JHPPK. 6 (2): 169-176.

Martuti, N. K. T. 2013. Keanekaragam Mangrove di Wilayah Tapak, Tugurejo, Semarang. Indonesian Journal of Mathematics and Natural Sciences, 36(2).36-40.

Peraturan Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Nomor: P.5/VII-WP3H/2012. Petunjuk Teknis Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Pada Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Dan Kesatuan Penngelolaan Hutan Produksi (KPHP).

Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (RPHJP) Kesatuan Pengelolaan Hutan KPH Wilayah V Provinsi Aceh Periode 2019-2028. Tentang Recana Pengelolaan KPH Wilayah V Aceh.

Sallata, M. K. (2013). Pinus (Pinus merkusii Jungh Et De Vriese) dan Keberadaannya di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Info Teknis EBONI, 10(2), 85–98.

Tjitrosoepomo, G. 2020. Morfologi Tumbuhan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999. Tentang Kehutanan.

Wijayakusuma, H.M.H., 2001, Tumbuhan berkhasiat obat Indonesia: rempah, rimpang, dan umbi, Milenia populer, Jakarta.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 


JIM Agribisnis|JIM Agroteknologi|JIM Peternakan|JIM Teknologi Hasil Pertanian|JIM Teknik Pertanian|
JIM Ilmu Tanah|JIM Proteksi Tanaman|JIM Kehutanan


E-ISSN: 2614-6053 2615-2878 Statistic Indexing | Citation


Alamat Tim Redaksi:
Fakultas Pertanian,Universitas Syiah Kuala
Jl. Tgk. Hasan Krueng Kalee No. 3, Kopelma Darussalam,
Banda Aceh, 23111, Indonesia.
Email:jimfp@usk.ac.id