Analisis Risiko Produksi Bawang Goreng (Suatu Kasus Usaha Bunga Alaska di Desa Weu Raya Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar)

Cut Ubit Bahreni, Widyawati Widyawati, Irwan Kadir

Abstract


UMKM sangat penting dalam membangun perekonomian suatu negara, termasuk Indonesia. Peran UMKM  membantu masyarakat untuk meningkatkan penghasilan dan mengembangkan potensi keterampilan yang mereka miliki, khusunya masyarakat yang memiliki ekonominya yang terbatas. Usaha bawang goreng bunga Alaska berdiri pada tahun 2019 inspirasi membuka usaha bawang goreng Alaska ini karena ketertarikan owner dalam dalam menikmati bawang goreng. Maka dari itu owner berinisiatif untuk membuat bawang goreng dengan varian rasa yang menarik dan tahan lama. Permasalahan  usaha bawang pada Bunga Alaska ini yaitu pada proses produksi bawang yang masih belum maksimal. Hal ini dapat dilihat dari rekap penjualan Bayeng Bunga Alaska yang dari tahun ke tahun selalu mengalami fluktuasi.

Penelitian ini dilaksanakan ada usaha Bawang Bunga Alaska, Aceh Besar. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) Untuk mengetahui penyebab gagal atau cacat produksi bawang goreng Bunga Alaska. (2) Untuk mengetahui pengendalian faktor resiko produksi bawang goreng Bunga Alaska. Populasi yang dalam  penelitian ini adalah  karyawan  bawang goreng yang berada didesa Weu Raya, Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 6 responden. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari survey dan hasil wawancara dengan karyawan bawang goreng serta pembagian kuesioner. Data sekunder diperoleh dari jurnal-jurnal. Dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dimana data diperoleh dari sampel populasi penelitian. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggunakan observasi, wawancara atau pembagian kuesioner mengenai subjek yang akan diteliti. Subjek yang dilihat dalam penelitian ini adalah risiko yang terjadi dalam usaha bawang goreng.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor resiko bawang goreng adalah kualitas bawang, penggorengan dan kemasan hal ini sangat perlu diperhatikan agar kualitas bawang goreng terjamin kualitasnya dan tidak menimbulkan resiko yang akan berdampak kepada kualitas bawang. Faktor resiko sangat mempengaruhi kualitas bawang, jika pwdagang tidak mampu meminimalisir faktor resiko, maka kualitas bawang goreng tidak layak untuk dipasarkan karena akan berdampak kepada isi dari kualitas produk, oleh sebab itu faktor resiko memang benar-benar harus diperhatikan.

Risk Analysis Of The Local Fried Onion Production (a Case of Alaskan Flower Business in Weu Raya Village, Lhoknga Sub-district, Aceh Besar Regency)

UMKM are very importhant in building economy of a country. The role of UMKM’s helps the community to increase than income and develope the potential skills they have, especially people who have a limited economy. The Alaskan flower fried onion business was founded in 2019 with the inspiration to open this business because of the owner's interest in enjoying fried onions. Therefore, the owner took the initiative to make fried onions with interesting and long-lasting flavors. The problem with the onion business at the Alaskan Flower is that the onion production process is still not optimal. This can be seen from the sales recap of alaska flower bayeng which from year to year always fluctuates                    This research was conducted in Weu Raya Village, Lhoknga District, Aceh Besar District. The purpose of the study was to determine the causes or failures or defects in fried onion production and to determine the control of risk factors for fried onion production. Population. The number of samples obtained as many as 6 respondents. The types of data used in this study are primary data and secondary data. Primary data were obtained from surveys and interviews with employees and distributing questionnaires. Secondary data obtained from journals. This research uses descriptive analysis where the data is obtained from the sample of the research population. Descriptive research is research that uses observation, interviews or distribution of questionnaires regarding the subject to be studied. The subject of this research is the risk that occurs in the fried onion business.                    The results showed that the risk factor for fried onions is the quality of onions, frying and packaging. Risk factors greatly affect the quality of onions, if traders are not able to minimize risk factors, then the quality of fried onions is not feasible to be marketed because it will have an impact on the content of the quality of the product, therefore the risk factor really must be considered



Keywords


Bawang Goreng; Produksi; Risiko Produksi ;fried onions; Production; Production Risk

Full Text:

PDF

References


Badan Pusat Statistik, 2010. Data Statistik Indonesia. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Provinsi, dan Kabupaten/Kota, 2005. Diakses pada tanggal 29 April 2015. Dari http://demografi.bgs.go.id/.

Firsawan, A.B. (2018). Jumlah UMKM di Aceh Naik Kualitas Stagnan. Jurnal Bisnis.https://sumatra.bisnis.com/read/20180628/534/810401/jumlah-umkm-di-aceh- naik-kualitas-stagnan. 2018 Group. Data di akses pada tanggl 15 Januari 2022

Maryati. MC. 2014. Manajemen Perkantoran Efektif. Yogyakarta: UPP STIM. YKPN




DOI: https://doi.org/10.17969/jimfp.v7i4.22405

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 


JIM Agribisnis|JIM Agroteknologi|JIM Peternakan|JIM Teknologi Hasil Pertanian|JIM Teknik Pertanian|
JIM Ilmu Tanah|JIM Proteksi Tanaman|JIM Kehutanan


E-ISSN: 2614-6053 2615-2878 Statistic Indexing | Citation


Alamat Tim Redaksi:
Fakultas Pertanian,Universitas Syiah Kuala
Jl. Tgk. Hasan Krueng Kalee No. 3, Kopelma Darussalam,
Banda Aceh, 23111, Indonesia.
Email:jimfp@usk.ac.id