Frame Gender Dalam Kekalahan Pasangan Illiza Sa'aduddin Djamal - Farid Nyak Umar Di Pemilihan Walikota Banda Aceh Tahun 2017

Al Farisi, Faradilla Fadlia

Abstract


Sejarah kepemimpinan perempuan di Aceh telah dimulai sejak Aceh masih menerapkan sistem kerajaan, banyak ratu ratu bahkan pahlawan nasional dari Aceh adalah perempuan sehingga posisi perempuan di Aceh tinggi. Illiza Sa’aduddin Djamal adalah salah satu pemimpin perempuan yang muncul di Aceh pasca konflik bersenjata, tsunami serta perjanjian Mou Helsinki. Beliau salah satu pemimpin yang dikenal dengan kebijakan syariat islam dan banyak prestasi yang diraih oleh kota Banda Aceh selama beliau memimpin, bahkan beliau terpilih 2 kali sebagai Wakil Walikota Banda Aceh periode 2007-2012 dan 2012 – 2017 sebelum beliau menjadi Walikota Banda Aceh.   

Pada pemilihan Walikota Banda Aceh 2017, pasangan Illiza Sa’aduddin Djamal – Farid Nyak Umar mengalami kekalahan akibat frame gender dalam bentuk isu kepemimpinan perempuan yang dicampur dengan isu isu seperti, sejarah kepemimpinan perempuan di masa lalu dan larangan perempuan menjadi pemimpin dalam islam.  

            Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak frame gender dalam kekalahan pasangan Illiza Sa’aduddin Djamal – Farid Nyak Umar di pemilihan Walikota Banda Aceh 2017 dan pengaruh frame gender dalam kekalahan pasangan tersebut.

            Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan sumber data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara yaitu, percakapan langsung dan tatap muka serta studi pustaka.

            Hasil penelitian frame gender dalam kekalahan pasangan Illiza Sa’aduddin Djamal – Farid Nyak Umar di Pemilihan Walikota Banda Aceh 2017 sangat besar dipengaruhi oleh frame gender karena faktor faktor sosial dalam masyarakat Aceh seperti, budaya parthiarkhi, sejarah kepemimpinan perempuan dan agama.   

Kata Kunci : Isu Perempuan, Illiza Sa’aduddin Djamal, Agama

 

Gender Frames in the loss of Illiza Sa'aduddin Djamal - Farid Nyak Umar during 2017 Banda Aceh Mayor election 

The history of women leadership in Aceh has begun since Aceh was still implementing a monarchic system. Many queens and national heroes from Aceh were women so that women position in Aceh was high. Illiza Sa'aduddin Djamal is one of the female leaders emerged during the post-armed conflict in Aceh, tsunami Disaster and Mou of Helsinki. She was known as the women leader who promoted the Islamic Shari'a law and achieved many achievements during her time in office as the Deputy Mayor and Mayor of Banda Aceh. She was elected twice as the Deputy Mayor during 2007-2012 and 2012-2017 period before she finally became the Mayor of Banda Aceh.   

In the 2017 Banda Aceh Mayor election, Illiza Sa'aduddin Djamal - Farid Nyak Umar suffered a defeat due to gender frames. Women leadership issues, the history of the past women leadership and the prohibition of women to become leaders in Islam contributed to their loss.  

            This study aimed to determine the impact of gender frames in the loss of Illiza Sa'aduddin Djamal - Farid Nyak Umar during 2017 Banda Aceh Mayor election and the influence of gender frames in their loss.

            This study used the qualitative method with a descriptive approach by analyzing primary and secondary data. Data were obtained through interviews, i.e., face-to-face conversations and literature studies.

            The results showed that their loss was very much influenced by gender frame and social factors in Acehnese society such as patriarchic culture, history of women leadership and religion.   

Keywords : Gender Issues, Illiza Sa’aduddin Djamal, Religion


Keywords


Gender Issues, Illiza Sa’aduddin Djamal, Religion:Isu Perempuan, Illiza Sa’aduddin Djamal, Agama

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Alamat Tim Redaksi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jln. Tanoh Abee, Kopelma Darussalam
Banda Aceh, 23111, Aceh
Indonesia